DIA datang tanpa pesan, tanpa tanda dan isyarat serta tanpa KATA. Namun hati ini dapat dan bisa merasakan. Walau hanya mampu untuk dapat merasakan namun amat sangat bahagia terasa jiwa ini. DIA datang dengan penuh senyum kasih sayang, dengan suara lembut dan merdu dalam setiap katanya. Dalam duduk meditasi sikap sempurna, tangan Murda terfokus pada Sahasa Cakra ( Cakra Mahkota ), kaki PadmaMU menyentuh dengan lembut dan sejuk terasa. Bahwa dalam hidup selalu ada yang bertambah dan berkurang, selalu ada yang datang dan pergi, selalu ada yang dapat diraih dan selalu akan kehilangan. Dalam simpuh kaki padmaMU berserah dan bersujud, memohon agar selalu ada dalam dekatMU. Engkau yang amat setia menemani dalam setiap langkah dan menunggu dalam penantian. Dalam doa agar selalu ada nyanyian yang memanggil namaMU, dalam sikap agar selalu ada kata yang seperti udara dalam setiap tarikan nafas ini. Dalam setiap warsa selalu engkau datang mengambil tanpa kata dan pesan, namun kedatanganMU selalu membuat rasa bersyukur walau tahu engkau datang untuk menagih dan mengambil. Karena engkau masih menyisakan kesempatan untuk dapat dijalani dan dapat dinikmati. Dalam tiap kesempatan ENGKAU selalu berada disisi kiri, kanan, depan dan belakang tanpa tersentuh, tanpa bekas, tanpa kata. Selalu setia mendengar keluh kesah, setia menjaga, setia memberi dan setia menuntun tanpa pernah mengatakan bahwa itu semua harus diganti. Engkau tidak pernah mengharapkan, tidak pernah meminta juga tiada pernah berlari meninggalkan. Selalu memberi kesempatan dan waktu untuk agar dapat memperbaiki dan merubah, hanya engkau yang berHAK menilai bukan siapa-siapa, engkau yang berHAK menentukan dan engkau pula yang berHAK memutuskan. Semoga dalam setiap langkah yang masih tersisa selalu Engkau setia menemani. Senin, 10 Agustus 2015
Wanti Warsa
DIA datang tanpa pesan, tanpa tanda dan isyarat serta tanpa KATA. Namun hati ini dapat dan bisa merasakan. Walau hanya mampu untuk dapat merasakan namun amat sangat bahagia terasa jiwa ini. DIA datang dengan penuh senyum kasih sayang, dengan suara lembut dan merdu dalam setiap katanya. Dalam duduk meditasi sikap sempurna, tangan Murda terfokus pada Sahasa Cakra ( Cakra Mahkota ), kaki PadmaMU menyentuh dengan lembut dan sejuk terasa. Bahwa dalam hidup selalu ada yang bertambah dan berkurang, selalu ada yang datang dan pergi, selalu ada yang dapat diraih dan selalu akan kehilangan. Dalam simpuh kaki padmaMU berserah dan bersujud, memohon agar selalu ada dalam dekatMU. Engkau yang amat setia menemani dalam setiap langkah dan menunggu dalam penantian. Dalam doa agar selalu ada nyanyian yang memanggil namaMU, dalam sikap agar selalu ada kata yang seperti udara dalam setiap tarikan nafas ini. Dalam setiap warsa selalu engkau datang mengambil tanpa kata dan pesan, namun kedatanganMU selalu membuat rasa bersyukur walau tahu engkau datang untuk menagih dan mengambil. Karena engkau masih menyisakan kesempatan untuk dapat dijalani dan dapat dinikmati. Dalam tiap kesempatan ENGKAU selalu berada disisi kiri, kanan, depan dan belakang tanpa tersentuh, tanpa bekas, tanpa kata. Selalu setia mendengar keluh kesah, setia menjaga, setia memberi dan setia menuntun tanpa pernah mengatakan bahwa itu semua harus diganti. Engkau tidak pernah mengharapkan, tidak pernah meminta juga tiada pernah berlari meninggalkan. Selalu memberi kesempatan dan waktu untuk agar dapat memperbaiki dan merubah, hanya engkau yang berHAK menilai bukan siapa-siapa, engkau yang berHAK menentukan dan engkau pula yang berHAK memutuskan. Semoga dalam setiap langkah yang masih tersisa selalu Engkau setia menemani. Minggu, 13 Juli 2014
KEBENARAN YANG TERSEMBUNYI.
Engkau adalah Wanita yang kuat, Ibu yang tabah dan Perempuan yang bijaksana. Engkau adalah Wanita Utama, Ibu dari semua ibu. Aku teringat dikala aku menangis dan merengek-rengek akan ingin sesuatu yang diluar kemampuanmu, engkau selalu mengatakan akan kebenaran dengan memberikan kata-kata yang mudah aku pahami. Bahwa engkau mempunyai batas kemampuan, batas pikiran dan juga batas kesabaran.
Engkau selalu memberikan penjelasan tentang Sebab dan Akibat, Karma dan Pahala. Dan aku hanya dapat menunduk tanpa dapat memahami tentang semua itu. Dan itu Dulu........., haaahhh...disaat ini aku baru dapat mengerti dan memahami semua itu disaat aku telah menjadi seorang Suami dari seorang istri, Ayah dari anak-anakku.
Aku mengalami itu, saat-saat seperti bagaimana aku dengan dirimu dan sekarang anak-anakku dengan diriku. Aku tertegun saat ingat aku dulu dan anak-anakku sekarang, seperti sebuah pengulangan waktu. Hanya lakon dan waktu yang berbeda, tetapi semua kejadian dan keadaan yang sama. Aku heran, adakah cermin kehidupan itu begitu nyata dan cepat terulang....????.
Namun aku bersyukur, bahwa aku mendapatkan Dirimu, aku terlahir dari rahimmu, aku diasuh dengan kasih sayangmu, dipeluk dalam buaian dan hangatnya kasih sayang. Dan akupun.....mengatakan hal yang sama kepada anak-anakku. Hanya sebuah pengulangan ucapan yang aku dengar dan kuingat.
Tentang kebenaran yang engkau katakan, begitu lama tersembunyi dalam waktu. Engkau mengajarkan tentang kebenaran dalam waktu yang begitu lama, mungkin engkau tahu batas pikiranku, batas kemampuanku.
Dan saat ini tentang kebenaran yang tersembunyi dalam waktu, telah aku pahami, aku mengerti dan juga telah aku katakan pada anak-anakku. Akupun katakan bahwa kebenaran itu adalah milikmu. Aku bangga dengan dirimu, engkau adalah Ibu yang Utama. Salam hormat dan baktiku padamu.
Minggu, 08 Desember 2013
KALPATARU YANG TERWARISKAN.
Dari batang induk terlahir dan tercipta sebuah kesejatian dan kesempurnaan tanpa ada keinginan untuk mengurangi dan menyembunyikan. Begitu ikhlas dan tulus yang keluar dari sebuah jiwa yang murni. Sebuah kepolosan yang murni dari setiap anugerah ALAM tercipta tanpa ada goresan noda dalam kulit daunnya. Berpuluh, abad dan seribu tahun telah terlewati tanpa ada rasa hormat, apa lagi untuk melepaskan, walau jaring-jaring dan duri-duri melilit dan mencabik batang dan dahannya.
Dari sebuah keyakinan bahwa itu yang terjamah hanyalah kulit luar saja, karena semua itu tiada guna untuk sebuah pencapaian kesempurnaan dan kesadaran sejati. Dari inti, batang dalam, urat nadi dan kulit dalam, masih utuh murni tiada terusik. Beribu paku yang tertancap, beribu tali pengikat, beribu serangga yang selalu mengitari tidak akan mampu masuk sampai kedalam sebuah keyakinan yang hakiki.
Hanya dia sang Waktu yang akan menjadi saksi dari kelelahan yang tak berakhir. Untukmu akan selalu tersiram dengan air murni kehidupan yang muncul dari jiwa-jiwa murni. Selalu dan selalu akan tumbuh batang - batang pohon muda yang siap melanjutkan pengabdian dan perjuanganmu untuk kehidupan makhluk di alam ini. Kelelahan yang mendera, kebodohan yang mengikuti akan membuat setiap akar dan daun yang melilitmu menjadi kering tiada guna. Engkau Kalpataru yang menjadikan kami teduh damai dan sejahtera. Salam.
Jumat, 14 Juni 2013
"Aku dan Milikku" hanya khayalan belaka.
EGO YANG MENGIKAT.
Fungsi alami yang tak terhentikan dari "Ego" adalah untuk mengendalikan dunia, ego yang sedang mencoba mengendalikan lingkungan rumah, keluarga dan tempat kerja serta semua ego berjuang untuk mengendalikan apa yang mereka anggap sebagai badan dan bathin mereka sendiri. Kendali semacam itu mewujud sebagai nafsu dan penolakan dan hasilnya adalah kurangnya kedamaian internal dan keselarasan eksternal.
Ego inilah yang menuntut meraup kepemilikan, memanipulasi pihak lain dan mengeksplotasi lingkungan. Tujuannya adalah untuk kebahagiaan sendiri, tetapi tak pelak menghasilkan penderitaan. Ego berhasrat untuk puas tetapi mengalami ketidakpuasaan. Penderitaan yang berakar kuat semacam ini tidak sampai pada sebuah akhir sampai kita melihat melalui pandangan cerah berlandaskan pikiran positif.
Memahami bahwa kita dapat datang datang dan pergi ke alam-alam yang berbeda, memberikan kita lebih banyak rasa hormat dan belas kasih kepada makhluk-makhluk lain di alam-alam tersebut. Rasanya kita tidak akan, sebagai contoh, mengeksplotasi binatang ketika kita menyadari kaitan tumimbal lahir yang menghubungkan kita dengan mereka.
Terdapat perbuatan-perbuatan melalui tubuh, ucapan, dan pikiran yang membawa pada kerugian bagi diri sendiri, kerugian bagi pihak lain atau kerugian kedua-duanya. Perbuatan semacam itu disebut karma "buruk" atau "tidak bermanfaat". Mereka termotifasi oleh nafsu, niat buruk atau delusi dan karena tindakan semacam itu semestinya tidak dilakukan.
Jika tatkala kemalangan terjadi sering menyalahkan pihak lain, kita dapat melihatnya sebagai kesalahan dalam perbuatan kita sendiri pada masa lampau. Ketika kebahagiaan terjadi sering menganggap hal tersebut sebagai lumrah-lumrah saja, kita dapat melihatnya sebagai buah dari karma baik di masa lampau.
Meskipun kita tidak dapat melarikan diri dari akibat karma buruk, kita dapat mengurangi keparahannya. Sesendok garam yang dicampur ke dalam segelas air, membuat air berasa sangat asin, sementara sesendok garam yang sama yang dituangkan ke dalam danau air segar, nyaris tidak mengubah rasa airnya. Artinya, akibat karma buruk pada seseorang yang terbiasa sedikit melakukan karma baik akan menjadi sangat menyakitkan, sementara akibat karma buruk yang sama pada seseorang yang terbiasa melakukan banyak karma baik akan terasa ringan saja.
Karena ego yang masih lebih menguasai pikiran, hati dan jiwa terkadang kita terlena akan kebanggan diri. Menganggap semua hasil yang kita dapatkan adalah sah dan wajar-wajar saja, tanpa lagi melihat sisi kiri dan kanan lingkungan kita, tanpa lagi bisa melihat saudara, teman, sahabat dana bahkan diri sendiri, yang mungkin apa yang kita dapatkan adalah tidak lepas dari peran serta meraka.
Yang terjadi " Aku dan Milikku " tidak lebih dari khayalan belaka.
Kendalikan keinginan, ego dalam diri sendiri. Salam
Sabtu, 29 Desember 2012
NOTE 2012
Rabu, 18 Juli 2012
Rabu, 27 Juni 2012
Bunga PadmaKU
Ketika kita tertegun akan kepergian, entah itu sahabat, rekan, saudara, orang tua atau guru yang selama ini kita jadikan suluh dan panutan.....hmmm perih rasanya didada. Karena kita menyadari akan rasa kehilangan, meski kita sadari pula itu akan pasti terjadi dalam putaran waktu. Namun kenapa kita " Terkadang " masih tidak mau menerima akan hal itu..????, tidak adanya rasa ikhlas, menyadari dan mau menerima keadaan itu. Mungkin disebabkan oleh beberapa sebab dan hal, karena kita " sayang, kasih dan cinta " yang menyebabkan kita belum bisa menerima. Ada juga karena masih banyak yang belum dapat dikerjakan atau diperbuat bersama-sama.
Tetapi pada dasarnya yang membuat kita terkadang bersedih karena telah terlambat untuk menyadari bahwa kita belum " SIAP " untuk menerima keadaan itu. Selama kita bersama - sama dalam kurun waktu yang telah berlalu yang mestinya kita banyak belajar dari waktu bersama namun pikiran kita yang terbatas hanya mampu memikirkan keadaan sendiri saja rasa" Egois " kita yang telah membutakan dan menutup pikiran dan jiwa kita. Kita hanya sibuk dengan diri sendiri dan melupakan bahwa ada yang lain disekitar kita, yang bisa kita ajak bersama-sama dalam berjalan menempuh waktu. Kita tidak pernah berpikir bahwasanya yang disekitar kita juga yang memberikan dorongan dan motivasi dalam perjalanan hidup kita. Itulah yang sering terjadi dalam hidup ini.
Kita bingung dan takut dalam mengejar keinginan yang tidak bakalan kesampaian, bingung dan sibuk mengejar harta, takut dan gelisah kehilangan harta sehingga kita melupakan sekitar kita. Banyak saudara, sahabat, rekan dan orang tua yang merasa kesepian karena ditinggalkan mencari dan mengejar impian. Jika impian, cita-cita telah tergapai, malah semakin jauh jarak antara nurani dan rasa. Semakin merasa tidak membutuhkan lagi sekitarnya.
Mungkin memang karena umur dunia sudah mulai tua, sehingga kita harus mengimbangi dengan pola hidup yang cerdas. Terkadang kecerdasan pikiran kita telah menutup pintu nurani dan jendela rasa yang ada dalam jiwa kita. Egois yang lebih menonjol dari pada nurani yang bicara dan rasa yang menyentuh, terkadang timbul rasa empati yang berlebihan terhadap keadaan dan sesuatu yang dianggap mengganggu perjalanan diri.
Hanya penyesalan yang terjadi disaat mata kita telah terbuka lebar bahwasanya yang kita lihat seperti biasanya telah hilang dalam pandangan, suara yang sering kita dengar meski kadang kita tidak hiraukan telang lenyap dalam genderang dan daun telingan kita, ada yang kurang dalam nurani kita dikala semua itu telah hilang dan lenyap bersama api, air dan angin yang telah membawa dengan ringan kembali keasalNYA.
Kepala menunduk lesu, air mata telah kering dipipi, raut muka lelah untuk meratapi semua, dan itu tidak akan mampu mengembalikan keadaan yang telah terjadi. Meski berusaha tegar dan teguh, tapi jiwa dan pikiran telah rapuh karena penyesalan yang tiada tara.
Baru disadari karena masih banyak yang harus kita lakukan dan kita pelajari, masih banyak yang belum kita dapatkan dari berbagi pengalaman dan ilmu kehidupan, masih belum siapnya diri kita untuk lepas dari gandengan dan genggaman tanganNYA, masih belum siapnya kaki ini untuk melangkah tanpa tuntunanNYA, masih belum matangnya jiwa ini tanpa bimbinganNYA, hanya dapat berharap bergantung dan bisa menyentuh kaki PadmaMU.
Dalam jiwa dan pikiran kita hanya terbentuk sampai kita berada dalam sentuhan tangan PadmaMU. Itulah yang terkadang kita merasa belum siap untuk sebuah kepergian sahabat, rekan, saudara, orang tua atau guru yang tidak akan pernah kembali lagi.
Engkau yang telah sempurna dan duduk damai diatas bunga Teratai/Padma, berikanlah kami semua beserta isi dunia kedamaian dan kebahagiaan. Salam hormatku padaMU yang tercinta dan terkasih Ida Bhagawan Putra Swabawa, Amor ring Cintya.
Langganan:
Postingan (Atom)
